KONSELING DALAM KELUARGA (menyikapi Kasus PHK)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jumlah karyawan yang sudah di-PHK
sampai saat ini di Indonesia sebagai konsekuensi logis dari krisis moneter 1997
yang diikuti oleh resesi ekonomi mencapai 15,4 juta orang, jumlah mana
diperkirakan akan meningkat menjadi 18-20 juta dalam dua tahun mendatang. Ini
diungkap oleh Dirjen Bina Penta Depnaker pada Rapat Kerja Komisi V DPR di
Jakarta baru-baru ini.
Salah satu akibat sampingan dari keadaan ekonomi yang tidak menentu yang telah menyebabkan susutnya lapangan kerja ini ialah timbulnya stres berat di tengah-tengah para pekerja yang masih bekerja tetapi tidak tahu sampai kapan sebelum mereka pun di-PHK.Dan stres ini terbukti menyebabkan munculnya kekerasan di tempat kerja, kekerasan psikologis. Tidak cuma Indonesia yang sedang menghadapi problem ini, juga negara-negara lain, sudah global, sehingga I.L.O. (Organisasi Buruh Internasional), suatu badan dari P.B.B. menerbitkan laporan setebal 165 halaman berjudul VIOLENCE AT WORK yang mengemukakan hal Kekerasan di Tempat Kerja yang telah menjadi bahan kerisauan global. Karena, tidakkah ketegangan dan kekerasan di tempat kerja ini, kalau terjadi dalam skala lebih besar di negara sedang berkembang dengan penduduk 200 juta lebih orang seperti Indonesia, bisa menjadi bibit potensi ketegangan dan kekerasan sosial di masyarakat?
Salah satu akibat sampingan dari keadaan ekonomi yang tidak menentu yang telah menyebabkan susutnya lapangan kerja ini ialah timbulnya stres berat di tengah-tengah para pekerja yang masih bekerja tetapi tidak tahu sampai kapan sebelum mereka pun di-PHK.Dan stres ini terbukti menyebabkan munculnya kekerasan di tempat kerja, kekerasan psikologis. Tidak cuma Indonesia yang sedang menghadapi problem ini, juga negara-negara lain, sudah global, sehingga I.L.O. (Organisasi Buruh Internasional), suatu badan dari P.B.B. menerbitkan laporan setebal 165 halaman berjudul VIOLENCE AT WORK yang mengemukakan hal Kekerasan di Tempat Kerja yang telah menjadi bahan kerisauan global. Karena, tidakkah ketegangan dan kekerasan di tempat kerja ini, kalau terjadi dalam skala lebih besar di negara sedang berkembang dengan penduduk 200 juta lebih orang seperti Indonesia, bisa menjadi bibit potensi ketegangan dan kekerasan sosial di masyarakat?
Kalau P.B.B. (Perserikatan
Bangsa-bangsa) tengah mengupayakan jalan keluar untuk mengatasi soal PHK global
di dunia, dan Depnaker (Departemen Tenaga Kerja) R.I. sedang banting tulang
menciptakan lapangan-lapangan kerja baru untuk menampung sebagian dari
orang-orang yang kena PHK, bagaimana kita sebagai keluarga mengatasi masalah
PHK di rumahtangga kita kalau ayah sebagai kepala keluarga pada suatu sore
pulang kerja membawa surat PHK dan gaji terakhir plus pesangon karena besok
ayah sudah tidak punya pekerjaan lagi?
BAB II
PEMBAHASAN
Kasus
Stress di
PHK, Pria Nekat Bakar Diri
Jamuludin alias
Keling warga Desa Kampung Bandeng, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang
Bedagai, Sumatera Utara ini kini hanya berbaring lemah di rumah sakit, hampir
sekujur tubuhnya hangus terbakar. Kondisi yang dialami Jamuludin ini berawal
dari aksi nekat yang dilakukannya dengan membakar sekujur tubuhnya.
Jamaludin adalah seorang kepala keluarga dengan 1 orang anak
dan 1 istri. Ia merupakan pemain organ tunggal dalam suatu sanggar di
daerahnya. Hidup dengan keadaan yang pas-pasaan namun nasib buruk menimpanya.
Jamaludin di PHK dari tempat ia bekerja sebagai pemain organ tunggal. Ia tidak
terima dengan kenyataan yang menimpanya ini dan stres sehingga nekat membakar
dirinya sendiri.
Aksi nekatnya tidak sampai menyebabkan korban tewas karena
tetangga korban sempat menyelamatkan korban dan melarikannya ke Rumah Sakit
Melati di Kecamatan Perbaungan. Indah Permata Sari istri Jamaludin mengaku,
kenekatan suaminya bermula dari kekecewaannya di PHK ditempatnya bekerja
sebagai pemain organ tunggal karena tidak bisa menerima kenyataan,
Jamuludin akhirnya membakar dirinya dengan menyiramkan minyak tanah ke sekujur
tubuhnya.
Kini penderitaan
tidak hanya dirasakan Jamaludin, namun juga anak istrinya yang harus menanggung
biaya rumah sakit. Sementara suami kini telah kehilangan pekerjaan.
Dampak dari di PHK
Dampak PHK sangat
besar, baik dirasakan oleh pencari nafkah atau pun orang-orang yang bergantung
pada si pencari nafkah. Lebih-lebih PHK ini akan lebih memukul pria secara
kejiwaan, karena pria cenderung menggantungkan harga dirinya pada kariernya.
Sewaktu dia kehilangan karier, dia bukan saja kehilangan pekerjaan tetapi dia
juga kehilangan dirinya. Ini berbeda dengan wanita, sewaktu wanita kehilangan
karier dia kehilangan pekerjaan, dia tidak kehilangan dirinya. Jadi dampak PHK
ini akan lebih berat dirasakan oleh para pria.
Masa PHK yang berkepanjangan dapat menyebabkan pria bisa
labil secara emosional. Jadi mudah marah, mudah tersinggung, tidak panjang rasa
kesabarannya. Karena PHK, akhirnya pria pun cenderung untuk mengisolasi diri,
sewaktu mengisolasi diri dia akhirnya menjauhkan diri dari istrinya, dia
menjadi orang yang tertutup. Bahkan pada kasus Jamaludin ia stres sampai nekat
bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup.
Teknik Konseling
Pada kasus ini
teknik konseling yang digunakan antara lain:
1.
Rational Emotive Therapy (RET)
Sesuai dengan permasalahan yang terjadi pada diri Jamaludin
maka RET ini sangat membantu permasalahan yang dihadapinya. Yakni, dengan
memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta
pandangan klien yang irrasional menjadi rasional.
Pada kasus Jamaludin yang di PHK ia merasa bahwa PHK adalah
akhir dari hidupnya, maka kita sebagai konselor harus merubah persepsi dari
klien tersebut. Merubah pemikirannya menjadi rasional, sehingga ia dapat
mengembangkan diri dan mencapai relisasi diri yang optimal.
RET juga melatih klien untuk menghadapi kenyataan hidup
secara rasional dan membangkitkan kepercayaan diri, nilai-nilai dan kemampuan
diri.
Adapun teknik konseling RET adalah sebagai berikut:
§
Assertive training, yaitu melatih dan membiasakan klien terus menerus
menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
§
Sosiodrama,yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan
sosial.
§
Self modeling, yatu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku
tertentu, dimana konselor menjadi model, dan klien berjanji mengikuti.
§
Teknik reinforcement, yaitu memberi
reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya.
§
Social modeling, yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial dengan
imitasi, observasi.
§
Bibliografi,
memberi bahan bacaan.
§
Relaxatation.
§
Self control, yaitu dengan mengontrol diri.
Teknik konselor
untuk menghadapi kasus tersebut yakni dengan teknik:
a.
Reassuring skills (keterampilan menenteramkan hati klien) keterampilan ini
merupakan usaha konselor untuk meyakinkan akibat logis perbuatannya atau pendekatan.
Hal itu merupakan hadiah (reward)
bagi klien dan mengurangi stress atau konfliknya.
Tujuan dari Reassuring
skills ini adalah untuk menanamkan kepercayaan diri klien, memobilisasi
kekuatannya, dan mengurangi kecemasan, dan menguatkan perilaku perubahan
perilaku kepada yang lebih baik.
b.
Developing action alternatives, yakni dengan
mengembangkan alternatif-alternatif dalm mengatasi krisis. Konselor mendorong
klien agar klien berani dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif yang
dilakukan dalam menghaadapi krisisnya. Adapun fase untuk mengembangkan tindakan
mengambil alternatif dalam peristiwa klien yang krisis adalah sebagai berikut:
§
Mengembangkan
persepsi realistik klien terhadap krisis yang dihadapi klien.
§
Memberian dorongan
untuk mengurangi ketegangan karena adanya krisis dan konflik.
Teknik konseling Islami
è Irsyad Islam
Irsyad
secara bahasa berarti bimbingan. Sedangkan irsyad ssecara istilah adalah proses
penyampaian dan internalisasi ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan,
penyuluhan, dan psikoterapi islami dengan sasaran individu atau kelompok kecil.[1]
Berdasarkan
QS. Al-Baqarah (2):286, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya........."
Seorang
konselor harus bisa membimbing dan meyakinkan klien, dengan acuan ayat ini
salah satunya.
Kunci
utamanya ada pada Sabar dan Syukur atas apa yang Allah kasih pada kita sebagai
hamba-Nya. (sabar);
1. QS:
al-mu'min (40):55
2. QS.
Al-insan (76):24
Syukur
mencakup tiga sisi:
a.
Syukur
dengan hati (yaitu kepuasan batin atas anugrah),
b.
Syukur
dengan lidah, dengan mengakui anugrah dan memuji Pemberinya
c.
Syukur
dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugrah yang diperoleh sesuai dengan
tujuan penganugrahannya.
1. QS.
Al-Mu'minun (23):78
2. QS.
Al-A'raaf(7):10
3. QS.
Ibrahim: 7
·
Tingkatkan
kesadaran klien, tentang esensi dan eksistensi dirinya:
> sebagai
hamba Allah, tugasnya beribadah ( QS. Adz-Dzariyat (51):56)
>
Sebagai
seorang suami, memenuhi nafkah istri dan keluarga
>
Sebagai
Ayah ( pemimpin keluarga)
>
Sebagai
seorang anak dari ayah-ibunya
>
Sebagai
seorang warga masyarakat yang baik, dll
>
QS. Qaf
(50): 16 "Allah lebih Dekat
padamu (manusia) dari pada urat lehernya". Ketika seorang konselor
bisa meyakinkan klien dengan Eksistensi Tuhan, maka klien akan berusaha lebih
dekat dan lebih ta'at pada Tuhan-Nya.
>
QS.
Ar-Raad (13):26 " Allah meluaskan Rezeki dan Menyempitkannya bagi siapa
yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal
kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah
kesenangan (yang sedikit)".
Ø Akhirat, dunia adalah kendaraan menuju kehidupan kekal yakni
akhirat kelak. Hal ini adalah hal terpenting yang harus disadari klien.
Kehidupan dunia hanya sementara.
·
Kehidupan kekal dan tempat
berbahagia bagi orang-orang yang beriman, (QS. Al-Baqarah (2):25),
·
QS. Yasin (36):54)
è Syifa
Syifa’
berarti obat. Kata syifa’ disebut sebanyak 4 kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam
surat: Yunus ayat 57, an-Nahl ayat 69, al-Isra’ ayat 82, dan Fushshilat ayat
44. Secara eksplisit Al Qur’an dikatakan merupakan syifa’, namun terdapat
perbedaan di kalangan ulama tentang jenis penyakit yang dapat disembuhkannya.
Ada yang mengatakan Al Qur’an hanya syifa’ untuk penyait hati, sementara yang
lain mengatakan juga syifa’ untuk jasmani.
a.
Obat
Penyakit dalam Dada
Obat
dari penyakit dalam dada ini merupakan Kesembuhan yang bersifat maknawi dan
rohani, yaitu kesembuhan dari penyakit-penyakit hati manusia.[2]
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-mu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orangorang beriman” (QS. Yunus: 57). Sesuai dengan redaksi ayat
ini para ulama bersepakat bahwa Al Qur’an dapat menjadi obat bagi
penyakit-penyakit rohani, seperti kemunafikan, kesombongan, dan semacamnya.
Berkait
dengan penyakit-penyakit yang dirasa ada peran syaithan di dalamnya, nabi Ayyub
pernah mengalaminya dan Allah telah memberitahu bagaimana cara mengatasinya. Dan
ingatlah hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ’Sesungguhnya aku
diganggu syaithan dengan kepayahan dan siksaan’ Allah berfirman, ’Hantamkanlah
kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum’(QS. Shad: 41).
Dalam
tasawuf dikenal dengan tekhnik takhalli, tahalli dan tajalli.
b.
Obat
Penyakit Jasmani
Obat
penyakit jasmani ini merupakan kesembuhan fisik, yaitu kesembuhan dari
penyakit-penyakit badan manusia.
Dan Kami
turunkan dalamAl Qur’an ayat-ayat yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Qur’an tidak menambah bagi orang-orang yang
dzalim selain kerugian (QS. al-Isra’: 82). Berdasar ayat ini Ibnul Qayyim Al
Jauziah mengatakan bahwa Al Quran dapat menjadi syifa’ penyakit rohani maupun
jasmani.
Berkait
dengan penyakit yang bersifat jasmani ini, sebenarnya Al Quran telah
menceritakan adanya bahan yang dapat dijadikan obat, sebagaimana ayat berikut: ‘Kemudian
makanlah dari tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuanmu yang telah
dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan’. (QS. an Nahl: 69).
Secara
hakikat, Allahlah yang menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang,
Sebagaimana yang diungkapan oleh nabi Ibrahim,’… Dan apabila aku sakit,
Dialah (Allah) Yang menyembuhkan aku, dan Yang mematikan aku, kemudian akan
menghidupkan aku (kembali)…’ (QS. asy-Syuara: 80-81). Ungkapan yang relatif
sama diungkapkan oleh nabi Ayyub ketika berdoa,’…(Ya Tuhanku), sesungguhnya
aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara
para penyayang’. (QS. al-Anbiya’: 83).
Tidak ada perbedaan dari ulama
bahwa Al Qur’an adalah syifa’ dari penyakit-penyakit hati.[3]
è Psikoteraphi
Psikoterapi
islam adalah proses perawatan dan penyembuhan terhadap gangguan penyakit
kejiwaan dan keruhanian melalui intervensi psikis dengan metode dan tekhnik
yang didasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Proses perawatannya disebut istisyfa.
Berikut ayat-ayat mengenai psikoterapi atau pengobatan yang terdapat dalam
al-Qur'an.
Psikoterapi Islam: erat kaitannya dengan perawatan ruhani
Islam ilmu ini membantu sisi terapi spiritualitas atau psikhis manusia dengan
paradigma psiko-teo-antroposentris yaitu jenis psikoterapi yang berbasis pada
agama (psikoterapi religius) yang bersandar pada ke-Mahamutlakkan Tuhan dan
upaya maksimal manusia melalui tujuh metode psikoterapi yang telah dikembangkan
yaitu terapi dengan: (1) al-Qur’an), (2) Do’a, (3) dzikir, (4) shalat, (5)
puasa, (6) mandi, wudhu (hidroterapi), (7) hikmah, (8) tashawuf dan tharikat. Qs.
Yunus :57; Qs. Fushilat:44; Qs. Al-israa:82; Qs. Al-An'am :99; QS. Al-Insan
:17-20.
3 Hal Yang Dapat Istri Lakukan Jika Suami di-PHK[4]— Seorang suami memegang peran
utama dan vital khusunya dalam hal finansial keluarga.Setiap waktu suami
menjadi tumpuan utama untuk mencukupi setiap kebutuhan keluarga.Penghasilan
suami bagaikan darah yang menjadi penopang kehidupan. Apabila mimpi buruk
menerpa yakni pada waktu keadaaan lancar-lancar saja tiba-tiba suami di-PHK
akibat perusahaan tempatnya bekerja kolaps atau bangkrut, maka otomatis ekonomi
ekeluarga akan terguncang.
Bila Anda sebagai seorang istri yang mengalami kenyataan
pahit ini maka bersabarlah. Memang keadaan ke depan akan semakin berat. Tapi
jangan sampai membuat suami menjadi lebih stres seperti memarahinya sebab hal
itu tidak akan menyelesaikan masalah tapi justru memperburuk keadaan. Dalam
menghadapi kondisi seperti di atas langkah-langkah seorang istri yang harus
dilakukan diantaranya:
1. Terus mensupport atau mendukung suami agar segera
lepas dari perasaan terpuruknya,
untuk segera bangkit kembali bangkit menata masa depan. PHK bukan akhir
dari segalanya.Dukungan dari orang-orang terdekat di saat berada di titik nadir
dapat menimbulkan motivasi tersendiri.Sehingga suamipun dapat segera
bersemangat kembali.
2. PHK merupakan hal yang berat tapi PHK
bukan akhir dari dunia.
Dengan suami susun strategi baru untuk mencukupi kebutuhan
pasca hilangnya penghasilan suami sampai mendapat penghasilan atau pun
pekerjaan baru. Bila usaha mencari pekerjaan baru sulit karena faktor usia atau
karena faktor-faktor lain, bisa mencoba untuk membuka usaha sendiri. Dengan
berwirausaha walaupun hanya kecil-kecilan pada awalnya pasti akan bisa
menggantikan penghasilan suami yang dulu, asalkan ditekuni dan ditambah kerja
cerdas. Banyak juga seorang suami yang di-PHK ataupun orang yang menjadi korban
PHK, hidupnya sekarang lebih sejahtera dibandingkan kehidupannya dahulu, karena
saat ini membuka usaha sendiri.
3. Tetap menjaga keutuhan keluarga jangan sampai
gara-gara suami di-PHK terus tidak kuat menjalani hidup lalu suami ditinggal
pergi.
Sebab untuk menjadi keluarga sejahtera dan
bahagia pastinya akan banyak cobaan yang menghadang salah satunya hal ini. Dengan
bersama-sama menghadapi cobaan maka akan semakin menambah rasa cinta dan kasih
sayang suami kepada istrinya. Semoga sedikit langkah di atas bisa membantu
meredakan masalah yang ditimbulkan akibat dampak dari PHK bagi sebuah keluarga.
[5]
Hal yang harus dilakukan
Orangtua kepada anak ketika di PHK:
|
|
1. Berterus terang kepada anak
Jangan sembunyikan kenyataan
bahwa anda telah di-PHK.Berterus teranglah sedari awal, meskipun tidak semua
detail perlu anda beberkan, terutama bila anak masih sangat muda. Anak umur 4
atau 5 tahun cukup diberitahu bahwa "Papah di-PHK hari ini maka papah
tidak akan bekerja di kantor (atau pabrik atau rumahsakit) untuk sementara.
Tetapi papah akan mencari pekerjaan baru dan pindah ke kantor baru."
Anak umur 7 atau 8 tahun yang sudah
lebih mengerti apa artinya orang bekerja dapat diberitahu, "Papah di-PHK
kemarin. Papah agak sedih sebab papah menyukai pekerjaannya dan senang bekerja
karena mendapat gaji. Tapi papah akan cari pekerjaan baru dan mungkin akan
mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tapi sementara waktu, semuanya akan
berjalan seperti biasa. Kamu akan sekolah dan bermain dengan teman-teman dan melakukan
hal-hal yang biasa kamu lakukan."
Kepada anak umur 10 atau 11 tahun
anda dapat menceritakan bahwa "Papah di-PHK kemarin.Papah sedikit kecewa
karena papah menyukai pekerjaannya dan suka bekerja mencari uang sehingga papah
papah bisa membelikan kita berbagai barang yang bagus-bagus. Papah akan mencari
kerja lain, tetapi sementara ini semuanya akan berjalan seperti biasa. Kita
sementara waktu harus sedikit lebih hati-hati dalam membelanjakan uang kita,
tapi selain dari itu semuanya akan tetap sama seperti biasanya." (Putuskan
di muka apa yang akan anda katakan. Besar kemungkinannya anda sedang berada
dalam keadean emosi yang goyah saat itu dan barangkali tidak sejernih biasanya
dalam berpikir, maka sebaiknya anda siapkan dulu apa yang akan anda katakan.
2. Jangan ciptakan kesadaran
palsu tentang realita
Dalam upaya melindungi anak
terhadap stres emosional dan ekonomi dari PHK, ada orang-tua yang memberi
anak-anak mereka mainan-mainan baru dan lain-lain.Tapi ini hanya menciptakan
kesadaran palsu tentang realita yang dapat membingungkan anak. Anak dapat
melihat bahwa ayah dan ibunya gelisah tentang uang, maka mereka akan berpikir,
"Mengapa mereka masih membelikan kami hadiah-hadiah?" Mereka mulai
mempertanyakan kemampuan diri mereka untuk memahami realita dan kejujuran
orang-tua mereka.Menciptakan keadaan kontradiktif ini juga dapat menimbulkan
kesan bahwa adalah wajar saja untuk berpura-pura bahwa segala sesuatunya beres
meskipun sesungguhnya tidak demikian. Anak perlu disadarkan tentang krisis
keluarga yang sedang melanda mereka dan didorong untuk berpartisipasi, dengan
cara yang sesuai dengan umur anak, di dalam menghadapi krisis itu.
3. Biarkan anak-anak ikut
membantu
Sebagai anggota keluarga, seorang
anak akan ingin membantu memecahkan problemnya ketika keluarga sedang melewati
masa yang sulit. Biarkan dia. Anak umur 4 atau 5 tahun umpamanya, dapat diberi
tugas "bermain dengan diam ketika mamah sedang menelpon," atau
"menyikat gigi sendiri ketika mamah sedang menulis surat." Seorang
anak umur 7 tahun dapat "membantu membereskan meja sesudah makan malam
setiap hari," sementara anak 11 tahun "membantu adik yang akan tidur
agar papah punya lebih banyak waktu untuk menulis surat lamaran kerja."
Satu cara lain: Ajak anak-anak
belanja ke pasar swalayan dan biarkan mereka ikut memikirkan cara-cara belanja
yang menghemat anggaran.
4. Lanjutkan rutinitas yang sudah
berjalan
Anak-anak bergantung pada
rutinitas dan prediktibilitas untuk meyakinkan diri mereka bahwa dunia mereka
adalah aman.Maka secara kritikal adalah penting untuk berusaha meneruskan
rutinitas sehari-hari mereka sejauh mungkin itu dapat dilakukan. Seorang anak
akan menderita lebih besar oleh rutinitas yang terputus daripada oleh ketidak-mampuan
sementara anda untuk membelikan mereka mainan-mainan istimewa atau
barang-barang bagus lain.
5. Jangan bebani anak terlalu berat
Meskipun anak-anak perlu
diberitahu tentang krisis yang sedang melanda keluarga, tetapi jangan membuat
mereka merasa bertanggungjawab untuk memperbaiki keadaan itu.
Ada ibu yang terlalu berat bersandar pada anak-anaknya untuk mendapatkan topangan emosional.Contohnya, seorang ibu yang setelah mengalami suatu pengalaman PHK yang traumatik, meminta anak perempuannya yang berumur 5 tahun untuk tidur bersamanya "agar mamah tidak merasa kesepian."
Ada ibu yang terlalu berat bersandar pada anak-anaknya untuk mendapatkan topangan emosional.Contohnya, seorang ibu yang setelah mengalami suatu pengalaman PHK yang traumatik, meminta anak perempuannya yang berumur 5 tahun untuk tidur bersamanya "agar mamah tidak merasa kesepian."
6. Lakukan secara hati-hati
transisi yang harus anda buat
Jika anda telah di-PHK lama dan
belum juga mendapat pekerjaan lain, anda mungkin harus membuat beberapa
penyesuaian di dalam rutinitas anak anda. Umpamanya, memindahkan anak anda
yang berumur 6 tahun dari sekolah swasta yang "mahal" ke sekolah lain
yang "lebih murah". Lakukan hal ini pada awal tahun pelajaran baru,
agar transisi terasa lebih natural. Dan jelaskan kepada anak tentang
rutinitasnya yang baru yang akan berbeda. Pastikan bahwa anda menjawab setiap
pertanyaan sejujur dan sesederhana mungkin.
7. Carilah bantuan luar, jika
perlu
Kadang-kadang anak bertindak
dengan cara-cara yang menandakan kebingungan mereka. Perilaku regresif seperti
mau "menempel" terus pada ibunya, menjauhkan diri dari teman-teman,
hilang nafsu makan, tidur yang terganggu, kemunduran mendadak dalam prestasi
belajar di sekolah, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk seperti
ngompol, tambah "nakal" di sekolah (problim-problim perilaku), boleh
jadi merupakan tanda-tanda anak anda sedang mengalami kesulitan di dalam
mengatasi keadaan baru itu. Bila anak anda cukup matang, cobalah berbicara
dengannya tentang bagaimana perasaannya.Tetapi bila perilaku non-karakteristik
itu berlangsung lebih dari beberapa minggu, anda mungkin perlu bantuan dari
luar - seorang profesional perawatan kesehatan mental, umpamanya.
8. Kuasailah emosi anda
Yang paling mengganggu seorang
anak ialah melihat orang-tuanya kehilangan kendali secara emosional.Rasa sedih
sampai suatu batas tertentu adalah wajar jika anda baru saja di-PHK, dan
boleh-boleh saja menunjukkan kepada anak anda bahwa kadang-kadang papah dan
mamah merasa sedih. Tetapi menangis sambil memaki-maki di depan anak anda akan
mengamcam kepercayaan anak anda kepada kemampuan anda mengurus mereka apa pun
juga yang terjadi.
Hal ini berlaku juga bagi
anda bila yang di-PHK adalah pasangan anda. Anda tidak boleh menjadi cerminan
stres pasangan anda, karena anak-anak anda akan melihat kepada anda untuk
mendapatkan penegasan kepastian bahwa dunia mereka adalah masih aman. Kalau
anda gelisah atau ketakutan dan meneruskan perasaan-perasaan itu kepada
anak-anak anda, mereka akan ber pikir, "Kalau begitu, saya rasa kita
benar-benar sedang dalam kesulitan bila baik mamah mau pun papah khawatir
seperti itu." Meskipun marah adalah reaksi normal terhadap PHK, usahakan
untuk tidak melampiaskannya kepada anak-anak.Jangan sampai anda membiarkan
anak-anak anda menanggung bagian terberat dari amarah anda.
9. Selenggarakan
"rapat" keluarga
Arti penting dari kekompakan
dalam saat-saat kritis adalah salah satu dari pelajaran-pelajaran penting yang
patut diperhatikan yang dapat diajarkan kepada anak oleh PHK orang-tua. Untuk membantu
setiap anggota ke]uarga menghadapi krisis ini, adakan "rapat"
keluarga setiap minggu dalam mana setiap orang memperoleh kesempatan untuk
berbicara dan berbagi. Orang-tua yang di-PHK depat memberitahukan perkembangan
mencari kerja yang dia lakukan. (Tidak perlu mendetail kalau anda belum
berhasil, agar tidak menambah anksitas anak-anak.)Dan setiap anggota keluarga
mendapat kesempatan untuk mengutarakan perasaannya dan upaya-upaya yang telah
dilakukannya selama itu.
10. Tingkatkan semangat anda
sendiri
Anak-anak merasakan bila
orang-tuanya sedang bingung; mereka merasakan adanya peningkatan iritabilitas,
kesedihan, atau distraksi.Dan seringkali, anak-anak merasa diri merekalah yang
harus dipersalahkan untuk kesusahan orangtua.Untuk meniadakan perasaan-perasaan
ini, curahkan waktu dan upaya untuk membangkitkan kembali semangat anda yang
sedang gembos.
Tentu saja, penangkal paling baik
terhadap kemurungan-kemurungan PHK adalah mendapatkan pekerjaan lain. Tetapi
itu akan datang dengan ketekunan, waktu, dan sedikit kemujuran. Namun,
sementara menunggu, tidak ada hal yang lebih penting - baik bagi anda sendiri
mau pun bagi anak-anak anda - daripada menjaga diri anda tetap tegar dan tidak
goyah.
(Bahan dari: Psychology Today,
terjemahan oleh I A SR)
DAFTAR PUSTAKA
Enjang
AS. dan Aliyudin, 2009. Dasar-dasar Ilmu Dakwah, Bandung: Widya
Padjadjaran.
Isep Zaynal Arifin, 2009. Bimbingan
dan Konseling Islam (Irsyad Islam) Dalam Bingkai Ilmu Dakwah.
Sofyan S. Willis, 2011. Konseling
Keluarga, Bandung: Alfabeta.
www. seputarpernikahan.com
[2] Abdullah bin Taslim al-Buthoni, 2011. Asy
Syaafi, Yang Maha Penyembuh.
[3]
Ahmad Hariadi, 2007. Syifa’.
Komentar
Posting Komentar